Laporan Wartawan Grid.ID, Ahmad Rifai

Grid.ID - Pemimpin Amerika Serikat (AS) yang satu ini tidak ada henti-hentinya menghiasi pemberitaan.

Hampir selama 2 tahun terakhir, sosoknya lebih banyak menghiasi sejumlah media daripada orang lain.

Sebelumnya, sang Presiden AS ke-45 menyebut dirinya sebagai 'jenius yang stabil'.

Pernyataan yang bergulir di akun Twitter pribadinya merespon publikasi buku Michael Wolff yang berjudul 'Fire and Fury'.

(Baca juga: Harapan Uya Kuya Terkait Perseteruan Farhat Abbas dan Vicky Prasetyo)

via GIPHY

Ternyata, twit Donald Trump yang membahas soal kesehatan mentalnya berbuntut panjang.

Sejumlah orang di Swedia bereaksi atas pernyataan ini.

Dikutip wartawan Grid.ID dari Expressen, seorang profesor bakteriologi klinis menawarkan sebuah perawatan mental untuk Trump.

Jelas Agnes Wold yang aktif di akademi Sahlgrenska di Universitas Gotherburg, perawatan yang diusungnya tidak konvensional.

(Baca juga: Brandon Salim Ungkap Alasannya Ingin Menikah di Usia Muda)

undefined
Profesor Agnes Wold | Twitter/AgnesWold

Usai suami Melania Trump begitu jumawa tentang kepribadiannya, Profesor Agnes ikut berkomentar.

Tanggapan yang diberikan begitu mengejutkan.

"Wow! Bisakah kita membuat sebuah dugaan sifilis stadium akhir?" 

Demikian cuitan sang profesor di hadapan 30 ribu pengikutnya di Twitter.

(Baca juga: Mengaku Jauh Lebih Besar dan Dahsyat Ketimbang Milik Kim Jong Un, Benarkah Donald Trump Punya Tombol Nuklir Sungguhan?)

Sifilis atau yang akrab disebut raja singa adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Treponema pallidum.

Jenis penyakit ini dikategorikan sebagai infeksi menular seksual (IMS)

Dikutip wartawan Grid.ID dari Sputnik, ternyata dalam kondisi sifilis tingkat lanjut mampu menyebabkan kerusakan pada jantung.

Tidak sekedar itu, sejumlah organ termasuk yang paling penting, otak, juga bisa saja berfungsi tidak semestinya.

Bahkan ditegaskan, dapat menyebabkan timbulnya kondisi mental meski tidak seperti kegilaan.

Usut punya usut, Profesor Agnes menyebut apa yang dia katakan ternyata hanya sebagai guyonan.

(Baca juga: Bukan Nuklir yang Akan Porak-Porandakan Korea Selatan, Inilah 9 Fakta Ngeri Tentang K-Pop)

Sang cucu pemenang hadiah Nobel dalam bidang kimia, Svante Arrhenius, memberi klarifikasi seperti ini.

 "Itu adalah lelucon."

"Saya tidak benar-benar mengira megalomania-nya disebabkan oleh sifilis."

Meski begitu, dia mengakui bahwa obsesi berlebihan terhadap diri sendiri karena merasa yang paling hebat mungkin juga termasuk dalam gejala yang disebabkan karena sifilis.

Kalau menurut kamu sendiri bagaimana?(*)