Find Us On Social Media :

Kisah Bocah Yahya 3 Bulan Pasca Gempa Donggala: Disabilitas di Kaki Tak Mengubah Cita-Cita Jadi Polisi

By None, Sabtu, 5 Januari 2019 | 11:24 WIB

Yahya

Grid.ID - Kakinya terluka serius akibat tertimpa tembok yang runtuh akibat gempa Donggala, 28 September 2018 lalu. Toh, meski menjadi korban musibah gempa Donggala bocah penggemar sepakbola ini tetap bersemangat merengkuh cita-cita.

Sambil duduk di sebuah gubug di tepi Pantai Hayalan, Salabomba, Kec. Banawa Tengah, yang dulu dilanda gempa Donggala, bibir mungil Achmad Yahya (6) sayup-sayup melantunkan lagu Pantai Talise.

Dengan suara yang agak cadel, bait demi bait lagu yang liriknya menggambarkan ganasnya gempa dan tsunami yang menerjang Palu-Donggala, senja 28 September 2018, lalu itu dilantunkan dengan penuh penghayatan.

Ketika lirik lagu bertutur tentang kejadian yang memilukan, kening anak sulung dari dua bersaudara itu mengerut.

Kedua matanya dipejamkan, suaranya mendadak berubah meninggi tatkala tiba pada bait yang menggambarkan dahsyatnya deru ombak yang meluluhlantkkan Bumi Kaili.

Urat lehernya tampak menonjol.

Bagi bocah bertubuh sedang yang duduk di kelas satu SD tersebut, lagu yang ia tembangkan itu memiliki makna yang amat dalam.

Baca Juga : 78 Hari Pasca Gempa Palu dan Donggala, Pasha Ungu Pastikan Kebutuhan Para Pengunsi Sudah Terpenuhi

Lagu itu mengingatkan dirinya pada tragedi alam yang nyaris merenggut jiwanya.

“Gempa saat itu menakutkan sekali,” kata Yahya ketika dijenguk oleh Sanusi dan Maman, anggota tim Jejaring Mitra Kemanusiaan-Oxfam (JMK-Oxfam), Kamis (13/12/2018), di lokasi pengungsian yang tak jauh dari rumahnya.

Namun, Yahya adalah sosok bocah yang luar biasa. Selain cerdas, ceria, dan penuh semangat, ia juga memiliki kemampuan komunikasi verbal diatas rata-rata anak sebayanya.

Ia dengan mudah akrab meski dengan orang yang baru dikenalnya. Saat berbicara, binar bola matanya tajam menatap orang yang menjadi lawan bicaranya.

Dengan gaya kekanak-kanakannya yang polos, ia menuturkan dengan runut bagaimana tragedi gempa yang menghancurkan kawasan perkampungannya itu terjadi.

Anak sulung pasangan Afandi (33) dan Husnia (30) itu mengisahkan betapa dirinya beruntung bisa lolos dari maut.

Meski untuk itu, ia harus mengalami disabilitas di bagian tulang pergelangan kaki kirinya akibat tertimpa tembok. Luka pada kaki itu membuat jalannya agak pincang.

“Tapi sekarang sudah mulai belajar main bola lagi,”ucapnya ceria.

Tembok Masjid Roboh

Yahya menceritakan, sore pada saat kejadian, seperti hari-hari sebelumnya ia bersama ayahnya bergegas menuju masjid desa untuk menunaikan ibadah salat Maghrib berjamaah.

Tak ada tanda atau firasat apapun bakal datang bencana dahsyat.

Usai mengambil air wudlu, Yahya langsung masuk ke masjid dan bergabung dengan jamaah lain. Belum selesai Irsyad, yang menjadi imam salat, melantunkan surat Al Fatihah, tiba-tiba lantai masjid bergetar kencang.

Semua jamaah sempoyongan hingga hampir terjatuh. Begitu menyadari terjadi gempa,semua jamaah, termasuk dirinya, langsung berhamburan keluar karena khawatir bangunan masjid akan roboh.

Naas, begitu sampai di luar masjid, kerasnya getaran gempa membuat tembok batako pagar luar masjid setinggi 2 meter roboh.

“Kaki kiri saya tertimpa tembok. Saya langsung jatuh,” kata Yahya menceritakan betapa paniknya orang-orang berlarian tak tentu arah.

Yahya masih beruntung. Ketika menoleh ke belakang, terlihat tubuh 2 temannya, Zahra dan Ningrum, sudah tergeletak tertimbun tembok.

“Saya lihat tubuh Zahra terlentang dengan darah keluar dari telinganya.” Zahra, kelas 5 SD, dan Ningrum yang duduk di bangku SMP itu akhirnya meninggal dunia. “Ibunya menangis terus,” kata Yahya dengan roman muka serius.

Di tengah kepanikan, Afandi, sang ayah, akhirnya berhasil menemukan Yahya diantara reruntuhan material tembok.

Baca Juga : Gelar Konser di Indonesia, Megadeth Lelang 2 Gitar untuk Bantu Korban Gempa Donggala dan Tsunami di Palu

Dengan cepat, ia singkirkan sisa material yang menimpa kaki anaknya, ia gendong dengan menggunakan sarung, lalu bergegas kembali ke rumah.

“Sampai di rumah, dengan perasaan panik, saya langsung mengajak istri dan anak bungsu saya, Achmad Alfaqi (4), meninggalkan rumah. Selain khawatir rumah roboh, saya juga lihat air keluar dari tanah melalui lantai rumah,” timpal Afandi yang ikut mendampingi Yahya saat wawancara.

Bersama warga yang lain, Afandi pun bergegas menuju ke Gunung Balongteteh di sebelah Barat rumahnya.

Warga berusaha menjauh dari rumah karena gempa tak juga berhenti.

“Kaki saya yang berdarah tidak saya rasakan, saya ikut saja ketika digendong ke gunung. Yang penting selamat,” celoteh Yahya.

Warga desa kemudian menyelamatkan diri di sebuah hamparan bukit di lereng gunung yang dianggap aman.

“Ketika diturunkan dari gendongan, pergelangan kaki kiri saya sudah bengkak segini. Saya sudah tidak bisa berjalan,” kata Yahya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya, memperagakan besarnya bengkak di kakinya yang cedera.

Ke Sekolah Digendong

Dalam suasana yang masih diliputi ketakutan terjadi gempa susulan, warga menghabiskan malam diatas bukit.

Mereka tidak berani turun. Para orangtua pun tidak ada yang tidur, kecuali anak-anak. “Malam itu saya tidur diatas kain yang digelar di atas rumput,” cerita Yahya.

Barulah keesokan harinya, Yahya bersama warga yang lain turun ke tanah lapang tak jauh dari rumahnya dan mendirikan tenda pengungsian darurat.

Selama di pengungsian, Yahya tidak bisa berjalan sama sekali dan tidak mendapat perawatan dokter.

“Akhirnya sembuh sendiri jadi seperti ini,” katanya sambil menunjuk kakinya. Selama kakinya masih belum pulih, Yahya mengaku sangat sedih karena dia tidak bisa berlarian dan bermain bola bersama temannya di lapangan di sekitar pengungsian.

Padahal, bermain bola menjadi kegemarannya sehari-hari.

“Saya senang sekali main bola. Ronaldo dan Mbappe adalah dua pemain kesukaan saya,” katanya penuh semangat.

Selama belum bisa berjalan, Yahya juga selalu digendong sang ayah setiap kali berangkat dan pulang sekolah.

“Sebenarnya dia agak malu dengan keadaan kakinya, tetapi saya beri semangat terus, suatu saat pasti akan sembuh,” timpal Afandi meyakinkan anaknya.

Setelah dua bulan berjalan dan luka di kakinya mulai mengering, Yahya memaksakan diri belajar berjalan.

Tetapi karena tidak mendapat perawatan medis yang memadai, pergelangan kaki kirinya tidak bisa kembali seperti semula. Bentuknya kini agak bengkok dan jalannya punjadi agak pincang.

“Tapi saya sekarang sudah mulai bisa berlari dan latihan main bola lagi, kok,” ucap Yahya yang bercita-cita menjadi polisi ketika dewasa kelak.

Baca Juga : Isak Tangis Awkarin Saat Ceritakan Korban Gempa Palu dan Donggala

Begitu kuatnya keinginan menjadi polisi, ia minta didoakan oleh kedua orangtuanya agar cita-citanya tersebut terkabul.

“Pak, nanti kalau saya jadi polisi, bapak saya kasih uang,” kata Afandi sambil tertawa menirukan ucapan anaknya. “Tapi dengan kondisi kakinya yang seperti ini, entahlah, apakah dia bisa meraih cita-citanya itu,” kata Afandi.

Afandi melanjutkan, anak sulungnya itu selain cerdas juga sangat taat beribadah.

Setiap hari nyaris tak pernah meninggalkan salat, termasuk salat berjamaah di masjid.

Ketika mendengar suara adzan Subuh berkumandang, tanpa dibangunkan dia akan bangun sendiri.

“Dia justru yang membangunkan saya untuk salat Subuh berjaaah di masjid,” cerita Afandi.

Bingung Biaya Berobat

Saat ini, beban Afandi memang agak bertumpuk.

Sejak gempa terjadi, ia bersama warga lain belum berani kembali ke rumah.

Meski rumahnya tak sampai roboh, tetapi tembok batakonya ikut retak-retak.

Afandi kini harus tinggal di hunian sementara berupa bangunan dari kayu dengan atap dari rumbai dedaunan.

“Saya tidak tahu sampai kapan harus bertahan dengan kondisi seperti ini.”

Di sisi lain, sebenarnya Afandi juga ingin membawa Yahya ke rumah sakit supaya mendapat tindakan medis yang memadai sehingga tulang kakinya bisa kembali seperti semula.

Tetapi kendala utamanya adalah biaya.

“Saya tidak ingin anak saya cacat (disabilitas). Tetapi berat juga kalau harus mengeluarkan biaya,” tambahnya.

Sebelum gempa, Afandi mengaku masih bisa berkebun cengkeh, bertanam cabe, atau bekerja apapun untuk menyambung hidup.

Tetapi sejak gempa itu terjadi, dia nyaris tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Satu-satunya yang bisa dilakukan saat ini adalah bekerja serabutan, salah satunya membantu warga atau pengungsi membuat hunian sementara.

“Para pengungsi saat ini mulai beralih membuat rumah dari kayu, sebab tidak tahan kalau tetap bertahan dengan tenda, terlalu panas. Penghasilan sebagai tenaga serabutan tidak menentu, kadang sehari dapat Rp30 ribu, kadang Rp50 ribu,” kata Afandi.

Baca Juga : Maia Estianty Jadi Model Dadakan untuk Penggalangan Dana Gempa Palu dan Donggala

Selain itu, untuk menambah biaya hidup sehari-hari, Husnia, sang istri, membantu di sebuah rumah makan di salah satu lokasi wisata, tak jauh dari rumahnya.

“Tapi tidak rutin, cuma kadang-kadang saja kalau memang warung makan sedang banyak pembeli,” timpal Husnia.

Tak jarang, saat warung makan banyak pembeli, Husnia baru pulang dari warung tengah malam, menunggu sampai pembeli habis.

“Hasil dari membantu di warung itu lumayan untuk tambahan biaya hidup sehari-hari,” papar Husnia yang sudah membantu di warung tersebut sejak sebelum musibah gempa melanda.

Sama seperti yang dipikirkan suaminya, Husnia juga berpikir bagaimana bisa mendapat penghasilan untuk biaya pengobatan Yahya.

Sebagai ibu, Husnia tidak mau melihat anak lelakinya harus menjadi difabel seumur hidup. Mumpung masih kanak-kanak, ia ingin masalah pada tulang kaki Yahya bisa diobati supaya bisa pulih kembali.

“Cuma saya masih bingung biaya dari mana?” imbuh Husnia yang mendapat pasokan hygiene kit dari JMK-Oxfam selama di pengungsian.

“Seandainya biaya pengobatan Yahya akan ditanggung pemerintah, tetap saja selama proses pengobatan butuh biaya transportasi untuk kesana kemari,” lanjutnya.

Baca Juga : Awkarin Bantu Korban Gempa Palu dan Donggala, Ini Reaksi Sang Ayah!

Namun, Husnia tetap optimis menatap masa depan yang lebih baik.

Di balik bencana yang begitu hebat, ia yakin masih ada cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Husnia sangat berharap bisa mendapatkan suntikan sedikit modal, entah dari mana asalnya. Modal tersebut akan ia gunakan untuk membuka usaha kecil-kecilan yang produktif.

“Misalnya, saya akan membuat kue yang bisa saya jual di perkampungan sekitar sini,” kata Husnia penuh harap.

Gandhi Wasono M