Find Us On Social Media :

Gunung Anak Krakatau Tumbuh 4 Meter Per Tahun, Apakah Letusannya Akan Lebih Besar dari Gunung Krakatau Tahun 1883? Berikut Jawaban BNPB

By Pradipta Rismarini, Senin, 14 Januari 2019 | 08:49 WIB

Gunung Anak Krakatau Tumbuh 4 Meter Per Tahun, Apakah Letusannya Akan Lebih Besar dari Gunung Krakatau Tahun 1883? Berikut Jawaban BNPB

Laporan wartawan Grid.ID, Pradipta Rismarini

Grid.IDGunung Anak Krakatau beberapa hari ini menjadi perhatian.

Sejak tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada Bulan Desember 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian.

Hal ini bukan tanpa sebab, pasalnya sejak tsunami Selat Sunda, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus aktif dan meningkat.

Baca Juga : Pakar Sebut Munculnya Air Berwarna Oranye di Sekeliling Gunung Anak Krakatau Suburkan Perairan Lepas Pantai

Diketahui bahwa sebelum tsunami Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau sudah erupsi sejak 29 Juni 2018.

Nama Gunung Anak Krakatau sangat tersohor.

Hal ini tak lepas dari Gunung Krakatau yang meletus sangat dahsyat pada tahun 1883 silam.

Baca Juga : Dari Tsunami Selat Sunda hingga Keluar Air Berwarna Oranye di Sekeliling Gunung, Berikut Deretan Fenomena Alam yang Muncul Pasca Letusan Gunung Anak Krakatau

Dari letusan Gunung Krakatau pada 1883 silam, terbentuklah Gunung Anak Krakatau ini.

Dilansir dari Majalah Geologi Kemeterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Geo Magz, diketahui bahwa Gunung Anak Krakatau lahir pada 15 Januari 1929.

Gunung Anak Krakatau lahir dari Gunung Krakatau yang Meletus pada tahun 1833 dan menewaskan 36 ribu jiwa kala itu.

Baca Juga : BNPB Sebut Perubahan Morfologi Gunung Anak Krakatau Begitu Cepat, Air Laut di Sekelilingnya Tampak Berwarna Oranye

Dalam pernyataan yang ditulis di majalah tersebut dikatakan.

“Pada 20 Januari 1929, asap meniang keluar dari tumpukan material gunung api yang baru dan muncul di permukaan, material itu tumbuh dari kedalaman laut 180 meter.

Itulah gunung yang baru lahir yang diberi nama Gunung Anak Krakatau”.

Baca Juga : Beredar Video Kondisi Terkini Gunung Anak Krakatau, Puncaknya Hilang Setengah Hingga Air Laut di Sekitar Tiba-tiba Berubah Oranye

Yang paling mengejutkan adalah pertumbuhan Gunung Anak Krakatau yang sangat cepat.

Dalam majalah tersebut disebutkan.

“Anak gunung api ini tumbuh 4 meter per tahun dan memesona banyak orang”.

Baca Juga : Kondisi Sekitar Gunung Anak Krakatau Berwarna Orange, Sutopo Purwo Nugroho Beberkan Penjelasannya

Bahkan sejak muncul ke permukaan laut, pertumbuhan Gunung Anak Krakatau lebih cepat.

Selama 80 tahun, tepatnya pada tahun 2010, tingginya sudah mencapai 320 mdpl!

Tentu hal ini dokhawatirkan oleh para ahli, karena pertumbuhannya yang cepat dikhawatirkan letusannya juga akan sehebat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Baca Juga : Gunung Anak Krakatau Hampir Setiap Hari Meletus, Sutopo Purwo Nugroho : Masyarakat Dihimbau Tenang

Menanggapi kekhawatiran akan dugaan ini, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho pada bulan Agustus 2018 pernah menyebutkan bahwa Gunung Anak Krakatau sedang dalam masa pertumbuhan.

Artinya, Gunung Anak Krakatau masih aktif dan terus tumbuh membesar.

Tentu hal ini tak jauh juga dari erupsi.

Baca Juga : Temukan Hal Tak Biasa di Dasar Laut Selat Sunda Usai Tsunami Gunung Anak Krakatau, TNI AL: Muncul Cekungan Kawah Menyerupai Teluk

Tapi Sutopo menyebutkan bahwa letusan Gunung Anak Krakatau tak akan sebesar Gunung Krakatau pada tahun 1883.

"Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan ibunya yaitu Gunung Krakatau pada 1883.

Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," tegasnya saat itu.

Baca Juga : Tak Hanya Gunung Anak Krakatau, Ini 3 Gunung Berapi di Indonesia yang Erupsi di Bulan Desember 2018

Namun diketahui kini tinggi Gunung Anak Krakatau menyusut setelah beberapa kali erupsi, terutama setelah tsunami Selat Sunda.

Letusan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau sebabkan penyusutan pada tingginya.

Semula Gunung Anak Krakatau memiliki tinggi 338 mdpl, kini menjadi 110 mdpl.

Baca Juga : Statusnya Naik Menjadi Siaga, Inilah 5 Potret Bukti Dahsyatnya Erupsi Gunung Anak Krakatau di Akhir Tahun 2018

Selain itu, pasca tsunami Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau juga kehilangan bagian puncaknya.

(*)