Find Us On Social Media :

Remaja Sulit Patuhi Imbauan di Rumah Saja, Orangtua Wajib Tahu Penjelasan dari Ahli

By Devi Agustiana, Selasa, 7 April 2020 | 16:10 WIB

Ilustrasi remaja.

Laporan Wartawan Grid.ID, Devi Agustiana

Grid.ID – Sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona, masyarakat Indonesia diimbau untuk membatasi diri atau melakukan physical distancing.

Upaya tersebut juga dilakukan dengan cara menerapkan sistem bekerja dari rumah (WFH: Work form home) dan belajar dari rumah.

Remaja dan orang dewasa muda dianggap sebagai kelompok yang paling sulit untuk beradaptasi dengan kondisi sekarang.

Mereka terpaksa tidak bisa berkumpul dengan temannya, mencoba berbagai pengalaman baru, atau mengubah cara belajarnya.

Baca Juga: Jadi Provinsi Pertama yang Terapkan PSBB, Apa yang Akan Terjadi pada Jakarta?

Orangtua diharapkan bisa memberi edukasi terkait kebijakan pembatasan jarak fisik selama pandemi covid-19 ini.

Dilansir Grid.ID dari Kompas.com orangtua bisa mengajak anak membaca berita atau informasi dari sumber-sumber terpercaya agar mereka memiliki pemahaman yang utuh.

“Luangkan waktu untuk berdiskusi, termasuk apa yang bisa mereka lakukan supaya tetap terhubung dengan teman sebayanya, meski terpisah jarak. Hal ini juga termasuk orangtua bisa mengendurkan aturan penggunaan media sosial untuk remaja,” kata pakar kesehatan mental, Ann Murphy.

Orangtua juga bisa mengajak anak mengeksplor aplikasi baru untuk memfasilitasi kebutuhan anak untuk ngobrol dengan temannya.

“Sebagai orangtua kita mungkin tidak mau mendorong anak terus terikat dengan gadget-nya sepanjang hari. Tapi, penting juga untuk mengenali bahwa remaja butuh bersosialisasi dan terhubung dengan sebayanya,” katanya.

Baca Juga: Sakit Hati Tahu Jenazah Terjangkit Covid-19 Ditolak Warga untuk Dimakamkan, Najwa Shihab Ungkap Pernyataan Dokter Forensik: Secara Kedokteran Inangnya Mati, Virus Corona Ikut Mati Sama dengan HIV, AIDS, hingga Flu Burung

Stres merupakan tantangan yang mungkin dihadapi keluarga ketika mereka harus berada di dalam rumah saja, sehingga orangtua juga harus lebih rileks dan peduli pada diri sendiri serta seluruh anggota keluarga.

Murphy menyarankan setiap anggota keluarga untuk membuat rencana waktu privat.

Yang perlu dikletahui, remaja merupakan periode di mana anak akan membuat jarak dari orangtuanya dan mendekat pada teman-temannya.

Hal ini merupakan proses yang normal dan sehat yang akan berlanjut sampai usia dewasa muda.

Komunikasikan dengan anak bahwa kamu sebagai orangtuanya menghormati privasi mereka dan juga waktu untuk sendiri, namun pahami bahwa mereka juga perlu peduli untuk meluangkan waktu bersama keluarga secara utuh.

Baca Juga: Curhat Sempat Nangis Sendiri Hingga Alami Stress Gegara Corona, Sabrina Chairunnisa Bocorkan 4 Tips Supaya Betah di Rumah: Do It, Walau Terlihat Konyol Dilakukan

Selama pembatasan jarak fisik, buatlah rutinitas keluarga yang sehat, misalnya tidur cukup, olahraga ringan, serta mengonsumsi makanan sehat.

Tak ketinggalan kegiatan terjadwal untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan juga waktu beristirahat.

“Wajar jika anak merasa cemas dan juga sedih karena tidak bisa bersekolah, bertemu teman, atau mengikuti kegiatan yang mereka sukai. Terkadang remaja pun akan merasa sedih, marah, dan frustasi,” katanya.

(*)