Find Us On Social Media :

Wanita Ini Punya 44 Anak di Usia 36 Tahun, Ternyata Ini Risiko Akibat Terlalu Sering Melahirkan

By Rissa Indrasty, Rabu, 15 September 2021 | 07:00 WIB

Wanita asal Uganda punya 44 anak di usia 36 tahun.

Laporan Wartawan Grid.ID, Rissa Indrasty

Grid.ID - Seorang wanita asal Uganda bernama Mariam Nabatanzi memiliki 44 anak di usianya ke-36 tahun.

Diketahui Mariam menikah saat usianya masih sangat dini, yaitu 12 tahun.

Di samping itu, Mariam juga sangat subur sehingga sangat mudah memiliki anak.

Saat pasangan anak kembarnya lahir, Mariam pergi ke dokter yang memberi tahunya bahwa dia memiliki ovarium yang besar dan berbeda dari wanita pada umumnya.

Dia dinasihati, jika menggunakan pil KB justru bisa menyebabkan masalah kesehatan, yang membuat janinnya semakin subur.

Pada saat usia Mariam menginjak 23 tahun, dia memiliki 25 anak, karena putus asa dia kembali menemui dokter.

Lagi-lagi dia disarankan untuk tetap hamil karena ovariumnya yang besar, dan terakhir kehamilannya terjadi dua tahun lalu karena mengalami komplikasi.

Baca Juga: Gegara Punya Ibu Tiri yang Racuni 5 Saudaranya hingga Meninggal, Wanita Ini Rela Melahirkan 44 Anak di Usia 36 Tahun Agar Punya Keluarga Besar

Memiliki banyak anak sebenarnya kurang diminati para orangtua dengan alasan biaya hidup dan pendidikan yang semakin mahal.

Di samping itu, melahirkan terlalu sering berisiko buruk bagi kesehatan ibu dan bayi.

Dikutip Grid.ID melalui Kompas.com, Selasa (14/9/2021), dampak buruk terlalu sering melahirkan juga dibenarkan oleh dokter.

"Makin sering hamil, makin buruk dampaknya bagi kesehatan karena meningkatkan risiko kematian ibu," kata Dr.Philip Darney, direktur Bixby Center for Global Reproductive Health, Universitas California, AS, seperti dikutip Foxnews.

Menurut Darney, wanita yang melahirkan anak lima orang atau lebih memiliki risiko kehamilan bermasalah.

Salah satu komplikasi yang mungkin dialami adalah perdarahan saat persalinan.

Di Indonesia sendiri, saat ini perdarahan masih menjadi penyebab utama kematian ibu saat melahirkan.

Baca Juga: Bejat Level Kebangetan! Kakek 60 Tahun Perkosa Pelajar SMP hingga Hamil dan Melahirkan, Bayi yang Meninggal Dibuang ke Sumur

Rahim, organ tempat janin berkembang, terdiri dari jaringan otot.

Kehamilan yang terlalu rapat akan mengendurkan otot-otot tersebut sehingga setelah persalinan, rahim menjadi sulit berkontraksi untuk kembali ke ukurannya yang semula dan terjadilah perdarahan.

Obat-obatan biasanya kurang berhasil mengatasinya.

Menurut penjelasan dr.Prima Progestian, Sp.OG, selain risiko perdarahan, ada beberapa risiko yang harus dihadapi wanita yang melahirkan terlalu sering.

1. Risiko placenta previa dan plasenta akreta meningkat.

Placenta previa adalah kelainan letak plasenta yang seharusnya di atas rahim malah di bawah, sehingga menutupi jalan lahir.

2. Meningkatnya intervensi dalam persalinan seperti pemasangan infus atau induksi (rangsangan) agar tanda persalinan muncul.

Baca Juga: Nadine Chandrawinata Hamil Anak Pertama Setelah 4 Tahun Menikah dengan Dimas Anggara, Pahami Risiko Kehamilan di Atas Usia 35 Tahun Berikut Ini

Induksi bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan atau memecahkan kantung ketuban.

3. Usia ibu yang terlalu tua juga menyebabkan risiko kecacatan janin, komplikasi pada ibu (preeklampsia atau diabetes gestasional).

4. Risiko bayi dilahirkan prematur akibat jaringan parut dari kehamilan sebelumnya bisa menyebabkan masalah pada plasenta bayi.

Menurut dr.Prima, meski sampai sekarang belum ada batasan pasti berapa banyak ibu boleh hamil dan dioperasi caesar.

Namun menurut riset, diperoleh kurva bahwa melahirkan anak di atas tiga orang maka risiko komplikasi akan meningkat.

"Untuk operasi caesar ada konsensus bahwa batasannya tidak lebih dari tiga kali," katanya.

(*)