Find Us On Social Media :

Sempat Bikin Heboh Karena Jadi Destinasi Honeymoon Ria Ricis dan Teuku Ryan, Inilah Fakta Tentang Tradisi Pemakaman di Desa Trunyan yang Unik, Mayat Dibiarkan Tergeletak di Tanah!

By Ragillita Desyaningrum, Rabu, 19 Januari 2022 | 11:10 WIB

Bulan madu di Bali, Ria Ricis dan Teuku Ryan kunjungi Desa Trunyan yang terkenal dengan tradisi pemakaman yang unik.

Laporan Wartawan Grid.ID, Ragillita Desyaningrum

Grid.ID – Setelah menikah pada Jumat (12/11/2021), Ria Ricis dan Teuku Ryan pergi bulan madu ke Banyuwangi dan Bali.

Di Bali, Ria Ricis dan Teuku Ryan mengunjungi beberapa tempat, salah satunya adalah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Momen ini pun diabadikan oleh Ria Ricis di Youtubenya Ricis Official dan Instagram @riaricis1795.

Desa Trunyan sendiri sangat terkenal karena tradisi pemakaman yang unik di kalangan wisatawan dalam dan luar negeri.

Jika biasanya di Bali terkenal dengan tradisi ngaben yaitu suatu prosesi upacara pembakaran mayat, Desa Trunyan justru membiarkan jenazah di atas tanah.

Warga Desa Trunyan meletakkan begitu saja jenazah di area pemakaman tanpa menguburnya ataupun membakarnya terlebih dahulu.

Tradisi ini sudah dilakukan oleh warga setempat sejak zaman dahulu dan masih bertahan hingga sekarang.

Uniknya, di area pemakaman tersebut tidak tercium bau busuk, bau bangkai, atau bau tak sedap lainnya.

Baca Juga: Salah Satunya Tempat Terangker Nomor 2 di Asia, Inilah Destinasi Wisata Horror di Indonesia yang Terkenal dengan Kisah Mistis, Berani Coba?

Alasannya adalah karena di tengah area pemakaman terdapat sebuah pohon besar dan kokoh bernama Taru Menyan.

Melansir GridKids.ID, “Taru” berarti pohon, sedangkan “Menyan” artinya adalah wangi.

Warga setempat percaya bahwa pohon Taru Menyan dapat menghilangkan semua aroma tidak sedap di area pemakaman karena aroma khas menyan yang dikeluarkannya.

Penasaran dengan fakta tentang tradisi pemakaman di Desa Trunyan lainnya? Simak pemaparan berikut.

Seperti diwartakan Kontan.co.id, sebelum dimakamkan, jenazah dibersihkan dengan air hujan dan dibungkus dengan kain.

Meski begitu, hanya bagian tubuhnya saja yang ditutup dengan kain sedangkan bagian kepala tidak ditutup.

Jenazah kemudian akan dibaringkan dalam sangkar bambu untuk menghindari serangan hewan buas.

Ketika sangkar sudah penuh, jenazah yang meninggal paling lama akan dikeluarkan sehingga ada ruang untuk mayat baru.

Nah, ketika tubuh jenazah sudah hancur karena panas matahari, tulang-tulangnya akan ditempatkan di altar di bawah pohon suci.

Baca Juga: Punya Kesan Mistis, 4 Lokasi ini Justru Jadi Destinasi Liburan Favorit untuk Dikunjungi Wisatawan!

Perlu diketahui bahwa area pemakaman di Desa Trunyan ini terbagi menjadi tiga yaitu Seme Wajah, Seme Batah, dan Seme Muda.

Seme Wajah diperuntukkan bagi jenazah yang meninggal dengan wajar dan Seme Batah untuk mereka yang meninggal dengan tidak wajar atau akibat kecelakaan.

Sedangkan Seme Muda adalah area pemakaman untuk bayi, anak kecil, ataupun orang yang belum menikah.

Fakta unik lainnya adalah perempuan dari Desa Trunyan tidak diperbolehkan untuk berkunjung ke pemakaman.

Warga percaya bahwa jika perempuan mendatangi pemakaman akan ada gempa bumi atau gunung meletus yang akan menimpa desa.

Oleh karena itu, hanya laki-laki yang diperbolehkan untuk mengunjungi pemakaman ataupun mengurus prosesi pemakaman.

Kaum adam yang telah selesai berkunjung ke pemakaman juga harus melakukan prosesi pembersihan diri terlebih dahulu sebelum masuk ke Pura Pancering.

Nah, bagi wisatawan dalam ataupun luar negeri yang mau mengunjungi Desa Trunyan, ternyata tidak mudah.

Pasalnya, wisatawan harus menyeberangi Danau Batur menuju Trunyan menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Baca Juga: Konon 5 Hotel ini Paling Angker di Indonesia, Salah Satunya di Pusat Jakarta!

(*)