Find Us On Social Media :

Akhirnya Widy Vierra Bongkar Momen Kelam 11 Tahun Lalu Saat Jadi Korban Pelecehan Seksual, Ahli Jelaskan 5 Alasan Korban Pelecehan Tidak Pernah Berani Speak Up!

By Devi Agustiana, Sabtu, 25 Juni 2022 | 13:19 WIB

Widy Vierra mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual.

Laporan Wartawan Grid.ID, Devi Agustiana

Grid.ID Widy Vierra mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual.

Hal itu ia ceritakan saat hadir di podcast Deddy Corbuzier beberapa waktu lalu.

Widy Vierra hingga kini pun mengaku masih trauma dan ketakutan saat dirinya menjadi korban pelecehan seksual pada 2011 silam.

Dalam kesempatan itu, bersama Cinta Laura, Widy menjelaskan kronologi insiden menyedihkan itu

Diwartakan Grid.ID, Widy mengaku bahwa kejadian tak mengenakan itu terjadi ketika dirinya baru saja selesai bekerja dan berolahraga.

"Kita musisi pasti kan kerjanya malam. Aku habis latihan olahraga basket, aku punya mantan yang toxic, dia ketemu sama temen-temennya," kata Widy.

Saat itu, Widy menyebut dirinya sedang sial hingga diculik oleh orang-orang yang sedang mabuk.

Beruntungnya, wanita 32 tahun itu berhasil melarikan diri setelah menunjukkan tato miliknya yang ada di bagian tangan.

Baca Juga: Sakit Hati Gegara Omongan Orang Sekitar yang Menyakitkan? Yuk Simak 6 Hal yang Sering Dilakukan Para Pelaku Pelecehan Verbal Ini Agar Kamu Tak Lagi Jadi Korban

"Gue apes aja saat itu, mereka lagi mabok. Mereka angkut gue aja. Gue mencoba berontak sambil susah nelponin mantan."

"Setelah gue diangkut ya udah gue kasih tahu gue siapa, dan untungnya mereka tau Widi Vierra ini punya tato," jelasnya.

Setelah mengatakan jika ia adalah vokalis band, penculik Widy itu pun langsung ketakutan karena khawatir Widy akan melaporkan mereka ke polisi.

"Mereka berdiskusi, takut kalau gue bikin laporan atau apa lah. Coba orangnya (yang diangkut) bukan gue gitu lho. Pasti lanjut diapa-apain di dalam mobil," sambungnya.

Meski ia enggan kasus tersebut diketahui oleh publik, tapi pada 2011, kasus tersebut malah viral setelah Kevin mengungkapnya melalui media sosial Twitter.

Dari kejadian tersebut, Widy sampai harus melakukan visum di rumah sakit hingga menghilang dari media sosial selama beberapa waktu.

Dalam kasus yang dialami Widy Vierra, sebenarnya ia mengaku sempat melaporkan kejadian itu ke pihak berwenang.

Namun, karena tidak mendapatkan respons positif, akhirnya dia memendam luka itu sendirian.

Terlepas dari hal tersebut, sebenarnya ada sejumlah alasan mengapa korban pelecehan tidak berani bicara.

Baca Juga: Dituding Melakukan Pelecehan Seksual, Gofar Hilman Ternyata Pernah Menderita Penyakit Gonore Setelah Bercinta dengan 100 Wanita, Apa Gejalanya?

Mengutip New York Family via Kompas.com, ada beberapa alasan dalam penelitian dan respons dari korban pelecehan seksual:

1. Menyalahkan diri sendiri

Menurut profesor antropologi di University of California, Riverside, perasaan menyalahkan diri sendiri adalah satu hal yang umum bagi korban pelecehan seksual.

"Ada kepercayaan umum soal budaya zaman dulu bahwa wanita yang tidak baik-baik akhirnya diperkosa."

"Keyakinan seperti itu dapat membuat korban berpikir bahwa pelecehan yang dialaminya akibat kesalahan diri sendiri," katanya.

2. Takut risiko

Kemudian, alasan umum korban tidak melaporkan pelecehan seksual adalah karena dia takut adanya timbal balik.

Sebagai contoh, pelecehan seksual dilakukan oleh atasan di tempat kerja.

Maka beberapa korban mengakui bahwa mereka tidak berani speak up karena takut dipecat.

Baca Juga: Mengenal Eksibisionis, Pelecehan Seksual yang Dialami Istri Isa Bajaj Saat Olahraga Pagi

3. Malu

Penelitian oleh Marjorie R. Sable dalam Journal of American College Health pada tahun 2006 juga menyebut bahwa alasan utama korban tidak melaporkan tindakan pelecehan yang karena merasa malu dan bersalah.

"Banyak orang yang menganggapnya sebagai aib," katanya.

Hal tersebut membuat sejumlah korban pelecehan malu ketika mereka laporkan kejadian itu ke pihak berwajib.

4. Hukuman tidak setimpal

Ada kondisi ketika pelecehan itu terjadi, si pelaku tidak menerima konsekuensi yang tidak setimpal.

Jika pelaku terbukti, maka hukuman yang mereka dapatkan dianggap tidak seimbang dengan dampak perilaku mereka.

Hukuman ringan pada pelaku pelecehan itu, menurut para ahli bisa menjadi pemicu pelecehan seksual masih marak terjadi.

5. Dianggap tindakan biasa

Ternyata di beberapa lingkungan tertentu seperti di tempat kerja, perilaku pelecehan seksual masih dianggap sesuatu yang wajar.

Hal akan menumbuhkan budaya pada anggapan kalau itu adalah suatu hal yang biasa.

(*)