Find Us On Social Media :

Sedang Tren di Era Milenial, Inilah Perbedaan Atlet eSports dan Gamers

By Novita Desy Prasetyowati, Selasa, 11 September 2018 | 14:50 WIB

Sedang Tren di Era Milenial, Inilah Perbedaan Atlet eSports dan Gamers

Laporan Wartawan Grid.ID, Novita D Prasetyowati

Grid.ID - Keberadaan game merupakan sebuah problematika bagi keluarga.

Tak hanya itu, banyak pasangan yang mengalami cek-cok hanya karena salah satunya sering bermain games.

Namun, belakangan ini, bermain game tidak lagi menjadi kegiatan yang membuang-buang waktu.

Baca Juga : Sang Putra Merekamnya saat Lakukan Kiki Challenge, Ashanty: Ziel Nakal!

Pasalnya, akhir-akhir ini banyak prestasi di Indonesia yang dihasilkan oleh para pemain games.

Bahkan, bermain game kini menjadi sebuah profesi tersendiri di berbagai negara.

Seperti halnya dalam event Asian Games 2018 lalu, game olahraga elektronik eSports turut didemonstrasikan dan akan menjadi cabang perlombaan di Asian Games ke-19 tahun 2022 mendatang.

Dilansir Grid.ID dari Kompas.com, meski sama-sama berangkat dari dunia game, tetapi gaming dan eSports memiliki perbedaan yang jelas.

Baca Juga : Kerap Sibuk, Nikita Mirzani Lakukan Ini Saat Dapat Quality Time

Menurut pengamat gaming dan eSports, Deddy Irvan, eSports merupakan game yang dipakai untuk profesi, sementara gaming hanya mengisi waktu luang dengan bermain game.

Gamer tidak sama dengan atlet eSports.

Para gamer hanya bermain game untuk sebuah hobi bukan profesi, sedangkan atlet eSports khusus dipilih yang terlatih dan memenuhi syarat.

Ketua Indonesia eSports Association (IeSPA), Eddy Lim, memberikan perbedaan antara gamers dan atlet eSports dalam acara bertajuk penyambutan eSports sebagai olahraga prestasi andalan pada masa depan.

Baca Juga : Presiden Jokowi Ajari Super Junior Goyang Dayung, Intip Videonya!

Hasil penelusuran Grid.ID dari Bolasports.com, Eddy menjelaskan kedua pemain game tersebut memiliki perbedaan yang mencolok.

Gamers

Para gamer biasanya hanya bermain game tanpa tujuan finansial.

Game yang dimainkan juga tergolong bebas sesuai dengan keinginannya.

Tak hanya itu, pemain game hanya bermain game sebagai pengisi waktu luang.

Berbeda halnya dengan para atlet eSports.

Baca Juga : 4 Fakta Menarik Mengenai Anak Dewi Yull yang Akan Segera Menikah

Atlet eSports

Eddy menjelaskan secara detail pemain game yang dinyatakan sebagai atlet eSports.

Atlet eSports memainkan games untuk sebuah profesi, sehingga dijalankan secara serius.

Atlet eSports dipacu otaknya untuk game strategi, bahkan otaknya aktif 110 persen sehingga mesti punya fisik prima.

Karena eSports merupakan permainan otak, para atlet eSports harus memiliki pengetahuan logic yang kuat, yang ditunjukan dari kemampuannya dalam bidang Matematika dan Fisika.

Hal tersebut bertujuan untuk mendukung kemajuan prestasinya di kemudian hari.

Baca Juga : Ashanty Ternyata Berikan Perlakuan Super Baik ke Asisten Rumah Tangganya, Mulai dari Uang Facial hingga Umrah!

Atlet eSports harus mengutamakan pendidikan.

Pasalnya, pada usia 27 dan 28 tahun, atlet eSports akan turun sehingga para atlet eSports tetap harus memiliki bekal pendidikan untuk kehidupannya mendatang.

Semua kategori tersebut disampaikan Eddy berdasarkan pada nilai-nilai Olympism.

Olympism merupakan sebuah falsafah hidup dan cita-cita untuk menggabungkan olahraga, budaya, dan pendidikan.

Baca Juga : Dikatain sebagai Musisi Tak Laku, Anji Manji Angkat Bicara

Nilai-nilai Olympism ini juga menjadi prinsip Olimpiade, simbol dan elemen-elemen ikon Olimpiade lainnya. (*)