Find Us On Social Media :

Pernah Dipaksa Aborsi oleh Pemerintah, Mantan Warga Korea Utara Sebut Pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in Tidak Berguna

By Chandra Wulan, Senin, 24 September 2018 | 09:29 WIB

Pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in

Laporan Wartawan Grid.ID, Chandra Wulan

Grid.ID - Pertemuan antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Presiden Korea Utara Kim Jong-un pada Rabu (19/9) di Pyongyang tengah menjadi berita utama di berbagai media internasional.

Foto-foto Kim Jong-un bersama Moon Jae-in melewati jalan dan melambai lewat atap terbuka di mobil tersebar di mana-mana.

Belum lagi momen pelukan yang terjadi saat Moon Jae-in baru saja menjejakkan kakinya di Korea Utara.

Banyak pihak berharap pertemuan dua pemimpin negara ini akan membawa perdamaian.

Harapan akan penyatuan Semenanjung Korea juga melambung.

Namun, di tengah optimisme yang bergulir, ternyata salah satu mantan warga Korea Utara beranggapan sebaliknya.

Baca Juga : Najwa Shihab: Kepercayaan Diri Syahrini Sudah Seperti Ratu Sejagat

Dilansir dari South China Morning Post, mantan warga Korea Utara ini bernama Ji Hyuna.

Hyuna melarikan diri dari Korea Utara sekitar setahun yang lalu.

Ia menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya di sana.

Di sana, warga hidup tanpa asupan makanan yang cukup.

Belum lagi ancaman kemanusiaan yang terus menyelimuti hidup mereka.

Hyuna bahkan sempat dipaksa untuk melakukan aborsi sebelum akhirnya kabur ke Korea Selatan.

Baca Juga : Ganjar Pranowo Respon Undangan Megadeth, Panggil Personel Band 'Mas'

Oleh karena itulah, ia tidak percaya bahwa pertemuan Moon dan Kim akan membawa perdamaian, terutama bagi warga di Korea Utara.

Ia menganggap bahwa perjanjian perdamaian hanya ada artinya bagi pemerintah Korea Utara.

"Bicara soal perdamaian memang terdengar manis, tapi tidak ada efeknya bagi rakyat jelata di Korea Utara," ungkap Hyuna.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa penyatuan Korea baru akan bisa dilakukan jika rezim Kim sudah runtuh.

Ia yakin rezim itu akan runtuh dengan sendirinya karena digerogoti dari dalam.

Orang-orang biasa di Korea Utara kini hanya bisa bertahan dengan jual beli di jangmadang (pasar gelap).

Baca Juga : Potret Sederhana Rumah Nursaka, Bocah Pelintas Perbatasan Indonesia-Malaysia

Kalaupun ada kerja sama ekonomi dan Korea Utara mendapatkan investasi dari Korea Selatan, pasar gelap itu akan kalah.

Dampaknya buruk bagi warga.

Sementara itu peneliti Asan Institute for Policy Studies, Jang Ji-hyang mengatakan bahwa investasi semacam itu akan meningkatkan taraf hidup warga, tapi hanya yang mendukung pemerintahan Kim.

Dalam survei yang digelar oleh Institute for Peace and Unification Studies di Seoul National University, hanya 7,6% responden yang mengatakan bahwa Kim adalah pemimpin yang baik.

Sebanyak 70% tidak menyukai pemerintahan Kim.

Co-founder dan direktur Teach North Korean Refugees, Casey Lartigue mengatakan bahwa Kim Jong-un adalah sosok bermuka dua.

Baca Juga : Adik Paula Verhoeven Merasa Buluk Saat Bersebelahan dengan sang Kakak

Ia telah membohongi warga Korea Utara seumur hidupnya.

Para pengungsi yang diajar oleh Lartigue mengatakan bahwa Kim perlu diwaspadai.

Wajah yang ditunjukkannya ke dunia internasional memang ramah, seperti komedian.

Tapi hanya mantan warga Korea Utara yang tahu siapa dia sebenarnya.

"Dia (Kim Jong-un) adalah komedian yang memegang alat pemenggal kepala. Dan hingga saat ini, banyak kepala yang tetap menggelinding."

Ucapan tersebut menggambarkan pemerintahan Kim Jong-un yang dingin dan kejam.

Baca Juga : 5 Fakta Fan Bingbing, Artis Populer Tiongkok yang Tiba-tiba Menghilang

Meski demikian, Kim Jong-un baru saja memberi hadiah berupa jamur pinus senilai Rp198 miliar kepada Korea Selatan.

Dilansir dari Intisari Online, jamur ini akan dibagikan kepada empat ribu warga Korea Selatan yang terpisah dari keluarga mereka di Korea Utara sejak Perang Korea.

Hal ini dinilai sebagai sinyal kuat keinginan Kim Jong-un untuk berdamai dengan Korea Selatan.

(*)