Find Us On Social Media :

Miris! Tak Mampu Bayar Biaya Pesawat Rp 50 Juta, Warga Luwu Utara Terpaksa Menggotong Jenazah Sambil Jalan Kaki Sejauh 60 Km

By Maria Andriana Oky, Selasa, 12 Februari 2019 | 07:00 WIB

Tak Mampu Bayar Biaya Pesawat Rp 50 Juta, Warga Luwu Utara Terpaksa Menggotong Jenazah Sambil Jalan Kaki Sejauh 60 Km

Grid.ID - Sebuah cerita miris datang dari warga Luwu Utara, Sulawesi Selatan, di mana mereka terpaksa menggotong jenazah sambil jalan kaki.

Warga Luwu Utara tersebut terpaksa menggotong jenazah sambil jalan kaki sejauh 60 km, karena takj mampu bayar pesawat.

Warga Luwu Utara menggotong jenazah sambil jalan kaki karena tak mampu membayar biaya pesawat yang terbilang sangat mahal.

Baca Juga : Betapa Sulitnya, dari 1.078 Peserta Tes SKD CPNS 2018 di Luwu Utara Hanya 6 Saja yang Lolos

Mengutip dari chanel Youtube Official iNews (10/2/2019) berikut rangkuman berita selengkapnya.

Jenazah diketahui bernama Razi Tantah yang meninggal di rumah sakit umum, Andi Djemma Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Jenazah Razi Tantah terpaksa digotong sejauh 60 km karena pihak keluarga tak mampu membayar biaya pesawat yang mahal.

Disebutkan bahwa biaya pesawat dipatok dengan harga Rp 50 juta.

Baca Juga : Fatimah, Gadis Asal Luwu Utara Meninggal Karena Dilarang Lakukan Hal ini, Terungkap 4 Fakta Sebenarnya: Status Terakhirnya Sebagai Salam Perpisahan

Karenanya, pihak keluarga terpaksa memilih mengggotong jenazah dengan menggunakan kayu dan sarung menuju Kecamatan Rampi, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Alat transportasi berupa pesawat dianggap menjadi satu-satunya pilihan tercepat untuk tiba di kecamatan Rampi.

Baca Juga : Bupati Cantik Dari Luwu Utara Selamat dari Kecelakaan, Fitur di Mobil Ini Menyelamatkannya

Akan tetapi, harga biaya pesawat tersebut dipatok sebesar Rp 50 juta, membuat keluarga tak sanggup membayar biaya sebesar itu.

Kecamatan Rampi merupakan salah satu kecamatan terpencil di kabupaten Luwu Utara.

Hanya ada dua akses menuju kecamatan Rampi dari Masamba, yakni menggunakan pesawat dan motor modifikasi untuk menysuri jalan setapak yang ekstrim.

Jalan menuju Kecamatan Rampi ini belum bisa diakses dengan menggunakan mobil, karena belum memiliki infrastruktur jalan yang memadai.

Baca Juga : Hujan Deras Terjang Sulawesi Selatan dan Sebabkan Sungai Meluap, Jembatan di Gowa Ambruk Terbawa Arus

Menjadi salah satu kecamatan yang terisolir membuat warga di sana hanya bisa menggunakan motor sebagai alat transportasi mereka.

Jalan-jalan yang dilalui pun merupakan jalan berlumpur dengan tebing- tebing yang curam.

Selain motor, transportasi lain yang bisa digunakan untuk ke kecamatan Rampi adalah pesawat perintis berukuran kecil.

Baca Juga : 6 Fakta Pernikahan Anak Berusia 13 Tahun dengan Siswi SMK di Bantaeng Sulawesi Selatan

Sebelumnya, jenazah Ranti diantarkan menggunakan mobil ambulans dari Masamba Kabupaten Luwu Utara menuju desa terakhir, Desa Badangakia, Lore Selatan, Poso. Sulawesi Tengah.

Dari desa terkahir itulah, jenazah digotong dengan menggunakan sarung dan kayu.

Baca Juga : Pernikahan Dini, Bocah SD Umur 13 Tahun di Sulawesi Selatan Nikahi Remaja Putri ABG Siswi SMK

Warga kecamatan Rampi tersebut harus menyusuri hutan belantara yang masih 'perawan' atau hutan alami.

(*)