Find Us On Social Media :

Waspada! Ternyata Tersedak juga Termasuk Asphyxia, Kondisi yang Menyebabkan George Floyd Meninggal

By Devi Agustiana, Selasa, 2 Juni 2020 | 18:26 WIB

George Floyd dan polisi yang menindihnya dengan lutut.

 

Laporan Wartawan Grid.ID, Devi Agustiana

Grid.ID – Kematian George Floyd masih mejadi perhatian dunia.

Pria kulit hitam ini meninggal dunia di Minneapolis, Amerika Serikat.

Flyoid (46) meninggal akibat perlakuan perwira polisi kulit putih, Derek Chauvin.

Baca Juga: Balas Dendam pada Raffi Ahmad dengan Jadikan Satu Mobil Mewahnya untuk DP Mobil Lain, Nagita Slavina Harus Hadapi Amukan Sang Suami hingga Gagal Dapatkan Kendaraan Favoritnya!

Dilansir Grid.ID dari Kompas.com, Floyd diketahui meninggal karena kehabisan napas setelah Chauvin menggunakan dengkul untuk menekan leher korban ke aspal di belakang sebuah mobil di tepi jalan.

Dalam insiden Senin (25/5/2020) sore itu, Floyd tengkurap dan tangan terborgol di punggung.

Sejumlah saksi mata merekam insiden itu.

Dalam video, Floyd berkali-kali mengatakan tidak bisa bernapas.

Sejumlah orang yang menyaksikan penangkapan itu juga mengingatkan bahwa Floyd kesulitan bernapas.

Namun polisi bergeming.

Floyd akhirnya dibawa dengan ambulans dan di rumah sakit dinyatakan meninggal.

Sebuah otopsi independen yang diminta oleh keluarga mendiang Floyd menemukan bahwa pria itu meninggal akibat asphyxia dari tekanan berkelanjutan.

Temuan itu mencatat, pembunuhan Floyd disebabkan oleh asphyxia karena kompresi leher dan punggung yang mengakibatkan kurangnya aliran darah ke otak.

"George meninggal karena dia membutuhkan napas, menghirup udara," kata pengacara keluarga Floyd, Ben Crump, dalam konferensi pers.

Baca Juga: Curiga Uang Royalti Hasil Karya Tangan Dinginnya Senilai Rp 180 Miliar Digelapkan, Ahmad Dhani Sesumbar di Depan Kevin Aprilio Bakal Usut Tuntas: Saya Punya Akses pada Kekuasaan, Jadi Bisalah!

Laporan tersebut mencatat, berat badan, posisi, dan borgol yang dipakai Floyd adalah semua faktor yang mencegah diafragmanya berfungsi dengan baik dan menyebabkan ia meninggal dunia, menurut ABC News.

Lebih lanjut, apa sebenarnya asphyxia itu?

Ketika seseorang mengalami sesak napas (asphyxia), berarti pernapasannya terganggu sehingga pengiriman oksigen ke jaringan dan sel-sel tubuh berkurang.

Hal itu bisa berakibat fatal dan terjadi secara traumatis ketika seseorang mengalami tekanan yang kuat pada "area dada".

Dalam bahasa Yunani, istilah ini secara harfiah berarti "berhentinya denyut nadi".

Dikutip dari WebMD, asfiksia atau asphyxia terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen untuk mencegah pingsan.

Ini bisa menjadi situasi yang mengancam jiwa.

Ketika bernapas dengan normal, pertama-tama kita mengambil oksigen.

Paru-paru mengirim oksigen itu ke dalam darah, yang membawanya ke jaringan.

Kemudian sel-sel menggunakannya untuk menghasilkan energi.

Nah, gangguan apa pun pada proses menghirup oksigen atau mengeluarkan karbon dioksida dapat membuat pingsan atau bahkan kehilangan nyawa.

Baca Juga: Bak Hilang Ditelan Bumi Setelah Cerai dan Ditinggal Nikah Ahok dengan Puput Nastiti Devi, Kondisi Batin Veronica Tan Sempat Diterawang oleh Denny Darko, Sang Ahli Tarot: Dia Berkorban untuk Apa yang Ia Percayai...

Salah satu jenis asphyxia disebut "fisik" atau "mekanis."

Itu terjadi ketika suatu kekuatan atau benda membuat tidak bisa bernapas.

Penyebabnya bisa jadi dari kecelakaan, beberapa contoh fisik adalah:

Tersedak

Tersedak bisa terjadi ketika makanan atau benda tersangkut di saluran napas dan menghalangi udara masuk ke paru-paru.

Para lansia umumnya memiliki peluang lebih besar mengalami tersedak, terutama mereka yang hidup sendiri, memakai gigi palsu, atau kesulitan menelan.

Bayi dan balita juga memiliki kemungkinan lebih tinggi tersedak makanan besar atau barang-barang yang mereka masukkan ke mulut.

Mati lemas

Mati lemas terjadi ketika sesuatu yang berat menutupi wajah atau dada dan mencegah bernapas.

Ini juga terjadi ketika berada di tempat di mana oksigen habis, seperti ruang tertutup yang kedap udara.

Tercekik

Jika tali atau tali atau benda lain yang cukup panjang untuk mengelilingi leher dan menekan di jalan napas, itu menghalangi udara untuk sampai ke paru-paru.

Overdosis obat

Opioid mempengaruhi pernapasan.

Ketika mengambil dosis terlalu tinggi, itu dapat memperlambat pernapasan ke titik di mana tubuh tidak bisa mengambil oksigen yang cukup.

Asfiksia lahir

Terkadang, anak yang belum lahir mungkin mendapatkan oksigen terlalu sedikit selama kehamilan.

Ini mungkin terjadi, misalnya, karena kekurangan oksigen dalam darah ibu, atau masalah dengan plasenta.

Selama persalinan, bayi juga tidak bisa mendapatkan oksigen karena masalah tali pusat atau persalinan yang lama.

Kejang

Kejang dapat menyebabkan asfiksia dalam beberapa cara.

Kejang epilepsi dapat membuat pernapasan tiba-tiba berhenti (juga disebut apnea) dan menurunkan oksigen dalam tubuh ke tingkat yang mengancam jiwa.

Lebih lanjut, selama kejang, tubuh dapat bergerak sedemikian rupa sehingga jalan napas tertutup dan menghalangi pernapasan.

Penyakit atau cedera, seperti gagal jantung, leher yang patah, atau reaksi alergi yang menyebabkan saluran udara membengkak dan menutup, juga dapat menyebabkan asfiksia fisik.

Selain “fisik” ada juga asphyxia jenis “kimia”.

Bahan kimia yang dapat menyebabkan asfiksia meliputi:

Karbon monoksida

Ini adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang berasal dari pembakaran berbagai jenis bahan.

Jika kita menghirup terlalu banyak, gas menumpuk di tubuh dan menggantikan oksigen dalam darah.

Sianida

Ini mencegah sel mengambil oksigen.

Manusia berisiko keracunan sianida jika menghirup asap selama kebakaran, memiliki kontak dengan bahan kimia industri tertentu, atau bekerja dalam pekerjaan seperti pertambangan atau pengerjaan logam.

Hidrogen sulfida

Gas ini berbau seperti telur busuk.

Itu bisa berasal dari limbah, pupuk cair, sumber air panas belerang, dan gas alam.

Jika manusia bernapas terlalu banyak, ini dapat mencegah oksigen masuk ke dalam sel, seperti halnya sianida.

Baca Juga: Ditanya Soal Kemungkinan Rujuk dengan Gisella Anastasia, Gading Marten: Gue Nggak Bisa Baca Masa Depan

(*)